Hah, bosen: Sebuah Cerpen


Bosan di asrama…

“Ah, keluar yo! Bosen nih di asrama!” Salah seorang dari penghuni asrama memprovokasi yang lainnya.

“Iya, ayo keluar aja!”

“Iya ah, gerah!”

“Lagian kan, seharusnya sekarang Jumat keluar, ngapain juga kesantrian ngalang-ngalangin kita supaya nggak keluar? Gerah tau di asrama terus! Lagian juga paling untuk ujian besok nggak ada yang belajar!”

“Hus! Jangan ngomong kayak gitu!” Seorang santri memecah suasana panas itu, jadi lebih panas sih tentunya.” Di sini aja napa? Sekali-kali patuh ma kesantrian.”

“Heh Zulfi, untuk apa patuh ma mereka? Lagian kan kasta kita sudah kasta dewa! Kalau dewa Olympus -kita maksudnya- marah mah, rakyat jelata -kesantrian maksudnya si ‘dia’- juga pasti akan tunduk.”

“Charles, besok kan ujian Biologi. Susah tau! Banyak ngapalnya! Udah ah, lagian nggak keluar juga nggak papa. Nggak sampe mati kok!”

“Ah, terserah kamu aja! Kalau aku mau ke Solo sekarang. Persetan dengan ujian besok. Berangkat yo!” Serombongan penghuni asrama keluar pintu bersamaan -eh, nggak lah, nggak bakal muat tau!

Kamar menjadi kosong.

Seakan kuburan.

Hanya tinggal seorang yang ada di sana.

Seorang bersama pulpen, kertas, dan mp3nya.

Zulfi namanya.

Entah apa yang dilakukannya.

^ ^

Sore harinya.

Segerombolan santri mulai memenuhi asrama satu per satu. Beberapa dari mereka datang dengan membawa tas penuh, mungkin isinya snack, pikir sebagian besar kawannya. Tapi nggak sedikit juga yang datang dengan membawa keringat.

“Ah… capeknya..,” ungkap salah seorang dari mereka.

“Iya ih, aku juga capek. Eh, kamu di luar dapat apa saja?”

“Nih, aku dapat video-video baru tentang motivasi dan kungfu.”

“Buset, keren dah tu. Eh, ngomong-ngomong tadi si Zulfi online i. Dusta tuh dia, katanya besok ujian, jangan keluar. Gitu katanya.”

“Ah, nggak tau ah. Dasar tu bocah.”

“Hei, aku denger tau!” Zulfi masuk dari pintu memecah keheningan.

“Zulfi, katanya nggak keluar! Gimana sih, katanya santri, masak dusta? Gimana dengan umat nanti?” Charles yang melihat Zulfi nggak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.

“Iya kok, aku memang nggak keluar.”

“Trus, kamu ngenet pake apa?”

“Ya rahasia lah… Hehehe..,” tertawa sinis.

“Pasukan, kepung dia!” Charles berteriak memberi instruksi..

Langsung saja, segerombolan santri mengepungnya. Ada yang memegang tangannya. Ada yang memegang kakinya. Ada yang mengempit lehernya. Ada pula yang menggelitikinya. “Auw, geli! Ampun dah… Ampun!”

“Oke, kalau gitu coba jawab: Kamu tadi kok bisa online?”

“Ya udah, aku ngaku deh. Tadi aku pake laptopku sendiri.”

“Mana?”

Zulfi langsung mendekati lemarinya. Memutarnya 180 derajat. Lalu dia menyentuhkan telapak tangannya ke lemari. Tangannya terdorong masuk. Nggak banyak kok, paling 5 cm. Sekilas, cahaya hijau berpendar super terang hingga menyinari asrama. Makin lama, sinarnya semakin terang. Terang sekali. Sinar itu memenuhi kamar. Kayaknya hampir nggak ada tempat untuk bernapas gara-gara sinar itu. Semua santri silau. Hampir tak bisa melihat apa-apa. Lalu, sinar itu hilang. “Mana laptopnya?” tanya Charles.

“Eh, kamu kira keluar di cahaya hijau itu? Ya nggak lah! Tadi aku cuma mau pamer aja.”

“Huuu…”

Zulfi lalu memutar lemarinya 180 derajat. Lalu, mengangkat tumpukan bajunya. Baru deh kelihatan. Sebuah laptop tipis, putih, kecil, di punggungnya tercetak gambar buah APEL.

“Woooow….”

“Zulfi, tadi kamu dapat apa aja di internet?”

“Eh, nggak ada, aku cuma posting aja.” Zulfi mengangkat buku tulisnya yang terlgeletak di atas kasurnya menggunakan jempol dan telunjuknya -kayak Lawliet saja.

Charles langsung membacanya….

“Ah, keluar yo! Bosen nih di asrama!” Salah seorang dari penghuni asrama memprovokasi yang lainnya.

“Iya, ayo keluar aja!”

“Iya ah, gerah!”

“Lagian kan, seharusnya sekarang Jumat keluar, ngapain juga kesantrian ngalang-ngalangin kita supaya nggak keluar? Gerah tau di asrama terus! Lagian juga paling untuk ujian besok nggak ada yang belajar!”

“Hus! Jangan ngomong kayak gitu!” Seorang santri memecah suasana panas itu, jadi lebih panas sih tentunya.” Di sini aja napa? Sekali-kali patuh ma kesantrian.”

“Heh Zulfi, untuk apa patuh ma mereka? Lagian kan kasta kita sudah kasta dewa! Kalau dewa Olympus -kita maksudnya- marah mah, rakyat jelata -kesantrian maksudnya si ‘dia’- juga pasti akan tunduk.”

dan seterusnya….

“Ini cerpen ya? Bagus juga nih… Tadi kamu posting dimana?”

“Ya wordpress lah. Ntar kamu buka blogku ya…” Zulfi nyengir.

“Yeee….” Asrama mendadak rame.

“Halah promosi,” kata Charles. [mzaini30]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s