Keluarga Kecilku: Catatan dari Ustadz Syifa


— Sebuah perenungan —

Gambar

Nikmatnya kumpul bareng…

—Keluarga Kecil—

“Fak, mau pegang kelas berapa tuk halaqohnya?” tanya Ust Apip.

“Kelas Tks aja ust, yang masih murni dan ga kenal saya” jawab ane cari alesan.

Begitulah awal mula terbentuknya keluarga kecil saya. Sebuah keluarga yang mengharuskan saya menjadi pemimpinnya. Jadi guru, yang dituakan sekaligus sebagai teman. Lucu sih sebenarnya, baru lulus 1 bulan yang lalu sudah dipangggil layaknya orang berilmu (Ust). Tapi oke lah, ini sudah menjadi resiko pilihan yang tidak bisa dihindari. Sekarang saatnya saya mengenal siapa yang akan menjadi anggota keluarga kecil saya. Ku ubek-ubek data yang diberikan Aliyah sampai akhirnya kutemukan fakta bahwa mereka yang terpilih bersama saya adalah anak-anak yang hebat.

Menurut pengalaman pribadi saya yang pernah hidup dipesantren selama 7 tahun, santri-santri yang hebat menurut versi sekolah itu cenderung agak “nyleneh”dibandingkan dengan santri-santri berkatagori biasa. Berhubung mereka anak baru, maka saya siapkan sistem tersendiri supaya “kehebatan”mereka tersalurkan maksimal bersama saya nantinya. Eman-eman bukan.

1 hari, 3 pekan, 6 bulan kujalani kehidupan baru bersama keluarga kecil “Syamil”. Dari 10 santri yang menjadi amanah saya ternyata harus ada satu yang terkorbankan. Sekali lagi itu adalah resiko sebuah sistem. Awalnya terasa diri ini yang bersalah, sampai akhirnya kulihat senyum 9 santri yang tersisa. Akupun tahu, ini bukanlah mutlak kesalahanku. Sampai masanya akhir tahun tiba. Mau tak mau keluarga kecil ini harus bubar. Saya pergi entah kemana dan mereka tersebar ke halaqoh yang lainnya.

Sudah 2 tahun berlalu dari waktu itu dan aku masih menganggap mereka keluarga kecilku. Sekarang mereka akan membuktikan hasil jerih payah mereka selama 3 tahun menghafalkan Al-quran. Dari 15 juz yang diujikan, setidaknya 9 juznya sudah tertempa bersama saya. Jika melihat sistem yang dulu kupraktekkan, seharusnya 9 juz itu akan mudah mereka murojaah. Tapi itu kembali ke mereka masing-masing. Siapakah mereka itu yang kubanggakan dan begitu kucintai? Mereka adalah :

    • Handika .

Tubuh pendekar, muka selalu tegang serius, susah diajak bicara. Itu kesan pertama yang muncul dibenak saya ketika pertama kali berjumpa. Gak kaget jika pada awalnya Handika menjadi ketua angkatan. Walaupun ga pintar bercakap kata, cukup bertatap mata anggota angkatannya bakalan nunduk tersiksa. Hahaha. Hafalannya cenderung kuat tapi terbata-bata. Kalau saja anak ini tidak rajin maka akan susah berhalaqoh mengikuti lainnya. Tapi sekarang saya sangat yakin dia akan bisa melewati UAT. Move terus Han.

  • Wahid

Tidak ada yang istimewa pada santri yang satu ini selain sudah hafal 30 juz, bahasa inggrisnya canggih dan pidatonya mengguncangkan mimbar. Ga ada yang istimewa memang, tapi luarr biasa. 😀 . saya tidak merasa telah memberikan kontribusi yang baik kepada anak ini. Malah mungkin menurun. Maafkan saya Wahid. Soal Uatnya nanti, saya tidak yakin dia akan setor 15 juz. Warasnya 30 juz. Hohohoho.

  • Zaini

Jenius. Mungkin kata yang pas untuk santri saya ini. Disaat yang lain tidur, dia juga tidur. Disaat yang lain menghafal, dia pilih tidur. Tapi setoran lancar-lancar saja. Hmmm, saya rasa dia akan aman-aman saja untuk Uat tahun ini jika ia mampu meredam keinginan-keinginan kecilnya.

  • Daul

Rajinnya ga ketulung kalau sudah berkemauan. Entah berapa kali saya berjalan keasrama untuk membangunkan santri, tapi dirinya sudah ada di barisan pertama mengaji. Saat itu dia memanfaatkan waktu sebaik mungkin sehingga 15 juz mampu ia lancarkan. Walaupun dibelakang saya tahu dia juga pelanggar yg “silent mode on”, tapi Uat bukanlah tantangan yang berat. Saat ini Daul hanya perlu belajar mengendalikan diri, fokus seperti dahulu. Maka lebih dari ujian akhirnya, dia insyaAllah akan mampu menggapai cita-citanya yang tinggi banget.

  • Septian

Mantap, kesan pertama yang kudapat. Bacaannya paling lumayan dibandingkan teman-teman sehalaqohnya. Eh entah kenapa ditengah perjalanan hafalannya terasa berat ditelinga. Tiada hari tanpa ditolak Mungkin. Tetapi rajinnya itu cukup membuatku percaya dia akan mampu melewati Uat ini dengan baik. Sabar aja ya bro.

  • Ibrahim

Pemalu. Tetapi tekad dan usahanya tidaklah memalukan. Selama dia berteman dgn sahabat yang tepat, maka potensinya melejit cepat. Karena pemalu juga, saya jadi susah mendeskripsikan anak ini. 15 juz? Bisa.

  • Amin

Multitalent. Apa-apa bisa membuatnya kurang konsen dalam menghafal. Otak kreatifnya membuatnya tidak terlalu betah dengan kegiatan bersifat monoton. Sedikit fokus saja dia bisa setor 1 juz dengan kesalahan  2% saja. Dengan sedikit pengawasan dari orang kedua maka jelas dia akan berlari jauh meninggalkan kawan-kawannya. Sebab potensinya sangat besar. Sedikit konsentrasi maka Uat akan lewat. Istiqomah saja.

  • Himly

Anak aneh yang suka senyum-senyum sendiri. Tapi firasat saya berkata ia akan jadi orang besar nantinya. Tapi saya tidak akan lupa, dialah anak yg pertama dan yg terakhir melangar aturan yg saya buat. Uat? No problem sepertinya.

  • Zulfi

Hiperaktif. Susah diam but hafalannya cepat dan kuat. Seneng usil tapi itu wajarlah, karena dia yang paling kecil diantara yang lain. Cabe rawit memang, sehingga saya berharap dia bisa lancar 30 juz desember nanti.

Itu sedikit profil santri sekaligus teman baik saya disaat mengabdi. Saya begitu cinta dengan mereka walaupun mungkin tidak sebaliknya.  Setiap tahun selalu kuluangkan waktu dan sedikit harta tuk bercengkrama bersama keluarga kecil itu. Menurut saya sih mereka akan gampang melewati Uat yang tinggal 2 bulan lagi. Kenapa? Sebagai guru tidak ada pilihan lain selain percaya pada santrinya. Ga usah minta doapun dah didoakan pastinya.

Dengan adanya mereka di kelas 3 sekarang, rasanya saya tidak perlu lagi menuliskan kata-kata penyemangat seperti yang biasa saya lakukan. Asalkan kalian bisa berkomunikasi dengan baik, masalah-masalah yang menanti hingga wisuda nanti tidaklah sulit tuk kalian lewati.

Untuk adik kelas, akrabi kakak kelas yang kalian punya sekarang. Selain 9 nama diatas, masih banyak yang kalian perlu kenal untuk bersinergi menjadi kekuatan yang besar dimasa yang akan datang.

Selamat berjuang semuanya. Masa Sma tidak akan terulang dan sekarang adalah masa yang istimewa. Berikan yang terbaik dari yang kalian punya, niscaya kalian akan mendapatkan yang terbaik pula.

Tambahan : ketika nulis ini tadi, alarm hp saya berbunyi “Ashim 18”. So, umurmu bertambah hendaknya kebaikanmu bertambah. Di kelas 2 sekarang Anda mirip sekali posisinya dengan saya dahulu. Bagian dakwah IDC osis dan Ruhaniah sapala. Manfaatkan posisi itu dengan maksimal. Ada banyak pengalaman dan pelajaran yg bisa diambil tuk meningkatkan potensi yg kamu miliki.

 

Curahan hati dari kota Nabi, 5 Dzulhijjah 1434H. [mzaini30]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s