Sebuah Nilai


GambarJantungku berdebar kencang tak karuan. Tubuh ini rasanya sangat susah sekali bersahabat dengan intruksi-intruksi dari otakku. Walaupun kuberusaha untuk berpikir, aku tetap susah menangkap apa yang kuinginkan. Ingin sekali kugerakkan jari ini. Kuingin dia bergerak, menari dengan gemulai seperti balerina anggun yang bermain di atas panggung opera Eropa. Kuingin. Kuingin sekali. Kondisiku saat ini sangat mencekam. Apalagi kalau bukan… ulangan.

Ulangan matematika lagi.

Beh, kesal sekali. Ingin sekali rasanya kujambak rambut hitamku yang eksotis ini (ihiiir). Tapi sayang, pesonaku sangat jauh dari yang namanya depresi. Ya, aku adalah orang yang sangat memperhatikan penampilan. Mode adalah segalanya bagiku. Tapi kini, ahhhh, aku sangat depresi. Aku… pasrah.

“Hei, jawaban nomor satu essay apa?” Orang ‘asing’ di sebelahku tiba-tiba saja memecah lamunanku.

“Nggak tahu ah! Cari tau aja sendiri!” Aku menjawabnya dengan intensitas bunyi 0,000000001 desibel, sangat tidak terdengar (ya iya lah, masak pas ulangan mau nyaring-nyaring ngomongnya).

Napa sih orang ini? Maunya kepo aja. Tanya orang terus jawabannya. Dia nggak tau apa sekarang lagi ulangan? Makanya, belajar dong! Mikir pakai otak! Jangan pakai dengkul! (ups, aku terlalu jahat ya?).

Aku bingung banget lo sama orang-orang yang kebiasaan nanya jawaban atau yang istilah gaulnya sih, nyontek. Aku bingung, apa waktu yang sangat lama untuk belajar itu nggak dia gunakan sebaik-baiknya ya? Apa hidupnya hanya diisi dengan kesia-siaan? Dengan hura-hura saja? Heh, dasar nggak guna.

Yang penting kan, aku bisa ngerjain ulangan ini dengan lancar. Pikir amat orang lain susah… Hahaha…

—Waktu pembagian nilai…

“Oke anak-anak, kali ini ibu akan membacakan nilai-nilai ekselen kalian. Apa kalian sudah siap mendengarnya?”

“Iya, Bu…” Penghuni sekelas menjawab serentak.

“Oke, ibu akan membacakan dari nilai tertinggi urutan ketiga.”

Suasana kelas itu tiba-tiba saja mencekam. Semua siswa pada tegang. Rasanya, nggak ada deh yang nggak akan tegang dengan suasana seperti itu. Beh, untung aja di kelas ini ada AC. Namanya juga kelas unggulan dari sekolah unggulan. Tapi perasaan semua kelas unggulan deh (hehehe…). Jadi udah jangan ditanya deh, “Eh, di sekolahmu ada kipas angin, nggak?” Hah, kipas angin? Nggak salah dengar tuh? Di sekolahku tu ya, jangankan kipas angin, AC aja ada. Tipi ada. Proyektor ada. Mmmm, apalagi ya? Pokoknya segalanya ada deh. Sampai-sampai, mau ngenet di kelas juga bisa. Kan pake wifi bro. Hape-hape kita juga smartphone semua. Hahaha…

Kembali ke adegan menegangkan itu.

“Juara ketiga…”

Makin tegang aja dah.

“Yaitu…”

Ayolah, aku dah nggak sabar nih. Kayaknya, aku yang juara satu deh.

“Doni.”

Heh, juara tiga orang yang di sampingku pas waktu ulangan, yang pas waktu itu mau tanya jawaban? Aku nggak sudi. Eh, tapi nggak pa-pa lah, yang penting aku juara satu.

“Juara dua adalah Rani.”

Ihiiir, cewek idamanku juara dua. Juara satunya siapa ya? Siap menemani nih.

“Juara satunya adalah…”

Deng deng deng deng…

Makin tegang.

Tegang banget nih.

Siapa ya?

“Jono!”

Hah, bukan namaku?

Serentak, seluruh kelas menjadi ricuh ketika para pemenang soal matematika itu selesai dibacakan. Kita semua senang. Eh, nggak ding, aku nggak. Aku sangat nggak senang dengan pembacaan ini. Aku nggak senang pada para juaranya. Aku nggak senang ma gurunya (lagian jelek sih). Aku nggak senang sama semuanya. Titik.

Dengan langkah terburu-buru, aku meninggalkan kelas. Aku sangat kecewa dengan hari ini. Sangat kesal. Coba saja aku punya alat yang bisa menghapus hari. Mungkin bentuknya kayak stip. Akan kuhapus hari yang menyesakkan ini. Coba saja aku punya Doraemon, pasti sudah aku koyak-koyak kantong ajaibnya dan akan aku rampas semua senjata mematikannya, biar semua orang tahu, betapa marahnya aku pada hari ini. Kalian yang punya mata, lihat saja sebentar lagi, bahkan leher pun akan terlepas dari jasadnya. Hahaha (ketawanya kuntilanak mode on).

Seseorang memanggilku, “Andre! Andre! Jangan pergi dulu!”

Sialan. Siapa lagi yang memanggilku di saat suasana hatiku kritis seperti ini? Dasar sompret!

Dengan jengkel, kutolehkan kepalaku dengan malas pula. Siapa sih yang manggil aku? Ketika kulihat. Ketika mataku dan matanya berpapasan. Ketika dunia berhenti saat itu juga, barulah kusadar.

Ahhh, guruku yang galak!

Tanpa ba bi bu, segera kutancapkan gasku dan mencoba mengambil langkah seribu. Eh, jangan langkah seribu, masih kurang! Langkah sejuta kalau perlu. Atau, langkah semiliyar dengan langkah-langkah korupsi dari rakyat. Kurasa itu cukup. Mmmm.

“Andre, janganlah kau lari dari ibu! Sini! Ibu punya kabar gembira!”

Iya kah? Kok tiba-tiba rasanya ingin sekali diriku mendekatinya. Kudekati aja dah guru itu. “Ada apa, Bu?”

“Ikut ke kantor sekarang!”

Yah, kabar gembira dari mana?

“Kamu itu gimana sih, Ndre! Matematika semudah ini saja kamu dapat nilai NOL!”

Apa? Aku tersentak dan langsung bangkit dari kursi tanpa perintah lagi.

“Andre, duduk dulu!”

“Iya, Pak.”

“Gini Ndre, sebentar lagi orang tuamu akan datang ke sini dan akan saya jelaskan betapa ‘pintar’-nya kamu hari ini. Setuju?”

“Nggak setuju, Pak!” kujawab dengan yakin.

“Eits, kamu boleh nggak setuju. Tapi, dalam hitungan tiga, orang tuamu akan berada di dalam ruangan ini…”

“Tiga…”

“Dua…”

“Sa…”

“Assalamualaikum!” Hitungan belum selesai dan orang tuaku sudah berada di depan pintu. Kayaknya.

“Iya, masuk!” jawab Pak Guru itu.

Dua orang dewasa memasuki ruangan itu. Aku terperangah. Akhirnya ada yang masuk juga. Eh, bukan orang tuaku ternyata. Yes, 1-0.

“Mana, Pak? Katanya orang tuaku mau datang?”

“Iya, ini juga mau datang.”

“Mana?”

Kring. Telepon butut di meja guru berbunyi. Eh, tapi itu telepon apa? Kukira tadi pisang berdebu. Hehehe, sekolah yang unik. Canggih tapi butut.

“…” suara di seberang sana. Sorry bro, aku nggak bisa mendengarnya. Namanya juga ditelepon.

“Iya.”

“…”

“Iya.”

“…”

“Iya.”

Asli, ini orang pada ngomongi apa sih? Kok nggak jelas gini percakapannya.

“Pak, anak Bapak mendapat nilai NOL.” Mak jleb, perkataan busuk itu menembus kotoran telingaku. Aku nggak salah dengar ya?

“Hahaha.” Terdengar suara tawa guru itu yang terukir jelas… di imajinasiku. Heh.

Aku tertunduk malu. Berusaha menyesali segala yang terjadi. Ya sudahlah.

Aku keluar dari sekolah dengan langkah gontai. Lemas. Rasanya tu sangat nggak semangat menatap mentari siang. Panas. Padahal, baru saja minum ketika keluar dari Ruang Guru. Tapi kok rasanya dehidrasi. Ah, yang namanya galau memang mengalahkan segalanya.

Dengan langkah semangat, Doni mendekatiku. “Akhirnya, bisa juga aku mendapat peringkat walaupun peringkat tiga.”

“Maksudmu apa, Tukang Contek?”

“Yeee, biarpun nyontek begini, aku kan jauh di atasmu. Emangnya nilaimu berapa?” tanyanya dengan memasang wajah mengejek dan mulut menjijikkan.

“Kepo.”

“Ah, pelit!”

“Nggak pa-pa, daripada kepo. Penyakit menular.”

“Bye dulu dah. Susah ngomong sama orang yang nggak jelas.” Yeee, yang nggak jelas juga siapa, datang-datang membuat iri orang lain.

Kemudian Rani mendekatiku dengan langkah gontai. Hampir seperti langkahku tetapi lebih gontai. Kenapa ini anak?

Dia membuang kertas ujian matematikanya.

Aku kaget.

“Yah, cuma dapat 99!” keluhnya. [mzaini30]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s