Meniup Debu Korupsi


Sebagai seorang muslim aswaja*, kita dihadapkan pada masalah yang sangat pelik yaitu korupsi.

Korupsi? Bisa dikatakan saat ini kehidupan kita yang “seharusnya” islami tidak lepas dari yang namanya korupsi seperti halnya kita saat ini tidak bisa lepas dari yang namanya riba. Siapa bilang korupsi hanya menjangkiti kalangan pejabat saja? Bahkan, saat ini pun anak kecil sudah bisa melakukan “kejahatan” korupsi tatkala anak itu meminta uang kepada ibunya dan ibunya bertanya, “Untuk apa Nak uangnya?” Lalu, anak itu menjawab, “Untuk beli buku, Ma.” Eh, nggak taunya duitnya itu untuk beli lotre. Bukankah itu korupsi?

Sekarang, beranjak ke contoh remajanya. Ketika sebuah divisi OSIS meminta uang kepada Bendahara Pusat dengan alasan untuk membeli perlengkapan. Tapi, eh, ternyata untuk makan bareng sedivisi itu. Bukankah itu juga namanya korupsi?

Oke, mungkin contoh kedua terlalu ekstrim karena di kehidupan nyata hal seekstrim itu mungkin sangat jarang terjadi pada tubuh OSIS (mungkin sebagian kecil sih…) tapi yang banyak terjadi adalah ketika divisi itu meminta anggaran untuk membeli printer misalnya. Mereka meminta anggaran berdasarkan harga printer termahal atau setidaknya yang menengah ke atas tapi yang dibeli malah printer yang harganya paling murah atau bobrok! Naudzubillah.

Marilah kita tengok kehidupan mereka (baca: koruptor cilik) ketika dewasa. Yang dulunya korupsi dalam masalah printer OSIS, kini berkorupsi dalam megaproyek-megaproyek yang sangat memengaruhi kehidupan orang banyak. Mereka mengorupsi proyek jalan, jembatan, bendungan, dan berbagai fasilitas publik lainnya. Apakah kejadian di atas sedikit? Tentu saja tidak! Karena lingkungan pulalah yang menyetak mereka sebagai koruptor.

Seperti yang kukatakan di paragraf awal, kehidupan tak lepas dari perbuatan korupsi sebbagaimana kehidupan yang tidak lepas dari perbuatan riba. Bahkan, di sekolah pun kita sudah belajar berbuat curang (yang merupakan gerbang menuju korupsi) yaitu menyontek. Lebih buruknya lagi, guru juga memfasilitasi mereka menyontek. Kapan itu? Terutama ketika UN. Mmm, inilah Indonesia.

Lalu, apakah kita bisa membebaskan Indonesia dari virus korupsi? Tentu saja bisa! Coba kita melihat bangsa termaju di dunia saat ini yang ternyata berada di Asia: Jepang. Ya, Jepang adalah contoh negara maju yang berhasil membentuk karakter penduduknya menjadi disiplin, santun, tepat waktu, hemat, jujur, dan berbagai sifat positif lainnya tanpa melihat sifat negatifnya yang hanya beberapa. Apakah Jepang dengan sekejap kerdipan mata bisa menjadi negara maju dan penduduknya otomatis menjadi penduduk ideal? Tentu saja tidak! Itu semua membutuhkan waktu! Dulu, ketika Jepang bangsa yang sangat bobrok, mereka melancarkan politik mengasingan diri (politik tutup) untuk membentuk kualitas masyarakatnya. Ketika kualitas mereka dirasa sudah kuat dan kokoh, akhirnya mereka membuka diri terhadap dunia luar dan dapat dengan cepat mengejar ketinggalan mereka (politik buka).

Apakah Indonesia –yang notabenenya negara muslim- bisa seperti itu? Tentu saja bisa! Mari kita dorong -kalau bisa, kita paksa- pemimpin-pemimpin kita untuk melakukan politik tutup-buka. Pertama, Indonesia kita tutup untuk meningkatkan kualitas penduduknya supaya terbebas dari korupsi, lalu ketika kita sudah mantab SDM-nya, kita buka Indonesia sebebas-bebasnya untuk menyerap ilmu pengetahuan yang melimpah ruah di dunia ini dengan tetap mempertahankan esensi sekaligus budaya sesungguhnya bangsa Indonesia yang anti korupsi.

Apakah kita bisa?

Of course, wa can! [mzaini30]

*Aswaja: ahlus sunnah wal jamaah – hidup dengan berpedoman pada Al-Quran dan As-Sunnah.

Recommended Links:
Website Resmi Nahdlatul Ulama
Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah
Info dan Belajar Islam Terkini
Search Engine Islam Terpecaya
Media Islam Terdepan – Inspirasi Generasi Islami

Iklan

2 thoughts on “Meniup Debu Korupsi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s