Cerpen : Rintihan Sang Juara


Hari ini adalah hari yang bersejarah bagi Ishaq, tapi juga hari terburuk baginya.

***

Ishaq hanya bisa menatap lantai yang bisu. Berbagai kata menyayat dari kedua orang tuanya sudah cukup menghancurkan sisa kehidupannya.

Ishaq yakin dirinya tidak berbuat salah. Toh, dia bukanlah anak nakal. Sejak 6 tahun di SD yang berlanjut dengan 6 tahun di sekolah menengah, dia selalu menorehkan senyum kebanggaan di raut muka guru-gurunya dan teman-temannya.

Tapi, kenapa hari ini berbeda?

Dalam hening Ishaq berteriak meronta-ronta heran.

Tapi dia nggak akan melupakan peristiwa besar beberapa menit yang lalu.

***

Ishaq tersenyum. Setelan jas hitam, dasi merah bergaris-garis putih tipis, serta semerbak wangi parfum semakin menambah ceria suasana hatinya. Apalagi hari ini adalah hari spesial, ajang penghargaan novelis dunia.

Ishaq begitu nggak sabarnya—plus deg-degan tentunya—menunggu setiap huruf yang terlontar dari Jimmy Watson, sang pembawa acara. Dia begitu penasaran siapakah novelis terbaik 2014. Ishaq tentu saja nggak terlalu berharap namanya disebut. Apalagi, hanya dia satu-satunya novelis yang tidak mengangkat tema cinta. Karena baginya, tema itu sudah basi, membuat para remaja hanya hidup di dalam imajinasinya, nggak ada semangat buat menapaki pahit-getirnya kehidupan. Hah, itulah kenapa dia tak yakin.

“And now, we’ll get the Number One of this year!” Oke, jujur Ishaq sudah tak sabar menunggu. “He is… Ishaq!”

“What?” Ishaq kaget bukan main. Rasanya aneh aja gitu. Dia yang hanya penulis biasa di Indonesia bisa-bisanya menyaingi sekian banyak novelis hebat dari mancanegara. Dengan rasa bangga bercampur ‘kikuk’, Ishaq maju perlahan ke podium.

Waktu terasa sangaaaaaaaaaaaaaaaaaat lama. Bahkan, bisa dibilang waktu terasa berhenti.

Oke, kebanggaan itu hanya muncul sebentar. Setelah itu, yang tersisa tinggal penyesalan.

***

“Ishaq, kenapa kamu menulis novel?!” bentak ibunya sekali lagi. Ishaq hanya mematung. Bapaknya tak membelanya sedikitpun, pura-pura tak mendengar sambil terus menikmati makanannya.

“Kamu tau, Ishaq, sia-sia kamu menulis novel. Coba waktu itu ibu masukin kamu ke pondok pesantren, nggak bakalan gini jadinya! Ishaq, Ishaq, baikan kamu menulis buku yang berguna buat kebangkitan Islam, bukan nulis novel! Novel cinta-cintaan! Cengeng!”

Sebenarnya Ishaq mau menjelaskan kalau novelnya itu bukan novel cinta-cintaan yang mainstream hari ini, tapi novel yang ditulisnya itu adalah novel yang memotivasi, novel yang membangun. Tapi sia-sia, sudah tiada kata lagi. Saat orang tuanya bicara, habislah sudah.

Piala satu meter kebanggaan Ishaq dan kebanggaan dunia hanyalah onggokan debu di mata orang tuanya.

***

Catatan Pengarang:

Banyak orang tua yang tidak bisa memahami anaknya. Ketika jalan hidup anaknya sudah berbeda dengannya, hanya kemarahanlah yang terlontar. Padahal, hal itu hanya akan menimbulkan dendam di hati sang anak. Alangkah lebih baik kalau orang tua memahami apa bakat anaknya kemudian diarahkan agar sesuai dengan jalan hidupnya. Karena bakat bukanlah kesia-siaan.

Iklan

2 thoughts on “Cerpen : Rintihan Sang Juara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s