Wanita, Apakah Harus Bekerja?


Tadi malam (12/3) aku nonton di Hitam Putih tentang 3 wanita yang mengabdi pada negara (dalam kutip : bekerja). Satu orang jadi TNI AU, yang duanya jadi Tim Gegana alias penjinak bom. Nah, yang tak pikirkan itu adalah anaknya tu gimana?

Maksudnya Gimana Sih?

Jadi gini lo, kalau misalnya bapak kerja, ibu juga kerja, terus yang akan membimbing anaknya siapa? Yang dibutuhkan oleh anak kan nggak cuma pendidikan doang kan? Ada aspek-aspek lainnya yang nggak bakalan didapat di sekolah kayak Akhlaq, Sikap, dan yang paling penting Agamanya.

Kalau bukan dari orang tua, siapa yang akan mengajarkan anak Shalat 5 Waktu?

Kalau bukan dari orang tua, siapakah yang akan mengajarkan anak Sopan Santun?

Kalau bukan orang tuanya, siapakah yang akan mengajarkan anak tentang Kerja Keras dan Makna Kehidupan?

Yakin deh, semua itu nggak bakalan bisa didapat di sekolah. Anak itu adalah bentukan orang tuanya. Kalau orang tuanya nggak bisa mengarahkan anaknya menjadi anak yang Soleh, di Akherat kelak barulah orang tuanya tau apa akibatnya dan seperti biasa, penyesalan itu datangnya terakhiran…

Follow @mzaini30 buat dapetin Update Blog terbaru 🙂

Iklan

4 thoughts on “Wanita, Apakah Harus Bekerja?

  1. Boleh sih wanita bekerja, hanya saja memang harus bisa membagi waktu dan tetap mengingat serta menjalankan kewajibannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s