Propaganda vs Poker Face


Zaman sekarang ini adalah zamannya propaganda. Di manapun kita berada selalu menemukan propaganda. Dan yang sangat mengejutkan, ternyata kita sekarang ini hidup di dalam suatu belantara imajinatif yang tak terikat batasan regional dan bahasa, itulah dunia maya. Tak bisa dipungkiri lagi kalau di dunia mayalah kita senantiasa dihadapkan pada propaganda ataupun kita yang menyebarkan propaganda. Walaupun, kita tak mengerti apa yang kita sebarkan itu.

Oke, sebelumnya, tau nggak kamu, apa itu propaganda?

Jadi, propaganda itu adalah suatu ungkapan persuasif yang membuat kamu mendukung pihaknya dengan pikiran kosong. Tau kan pikiran kosong itu apa? Ya! Dengan bodoh!

Jujur, aku akui, kalimat-kalimatku ini memang sangat menusuk. Tapi, kalau kita nggak diingatkan dengan keras, kita nggak bakalan sadar! Akui itu! Makanya, aku mengajak kalian semua untuk keluar dari kebodohan ini menuju pemikiran yang bebas dan penuh dengan keyakinan.

Omong-omong, pemikiran yang yakin itu dapatnya darimana sih?

Nah, itulah pertanyaan yang harus kita tanyakan di zaman yang serba gila ini. Untuk mendapatkan pemikiran yang kuat, kita harus banyak membaca. Itu kuncinya. Pasti saat ini banyak kan manusia-manusia yang anti dengan buku? Atau yang biasa kusebut dengan fobia buku. Kalau kita jauh dari buku, jauh dari pengetahuan, kapan kita bisa bebas? Mau-maunya kita setiap hari dibodohin di Twitter, Facebook, tipi. Setiap hari kita digiring untuk menjadi manusia-manusia yang materialis, hedonis, pemuja hawa nafsu, liberal. Akhirnya kita menjauhi buku dan kemudian menjauhi para ilmuan dan alim ulama.

أستغفر الله العظيم

Akhir-akhir ini aku menyadari itu, dan mulai membaca buku walaupun dari buku yang ringan dulu. Aku yakin, ketika kita cinta dengan buku, suatu saat kita cinta dengan ulama dan ilmuan.

What About Poker Face?

Poker Face itu ketika kita memberi respon suatu hal dengan–seperti–cuek. Maksudnya, ketika kita dihadapkan sesuatu, kita nggak bereaksi. Walaupun kita nggak bereaksi, bukan berarti kita cuek. Tetapi, kita memberikan respon di dalam pikiran kita sambil terus menganalisa dan meneliti.

Intinya, dengan bersikap poker face, kita nggak akan gampang termakan propaganda.

Sudahkah kamu membaca hari ini?


Ditulis dengan cinta, @mzaini30

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s