Kebenaran Tetaplah Kebenaran


Suatu makhluk yang bernama manusia, hanyalah bertindak berdasarkan hawa nafsunya

~ (anggap aja) Annonymous

Postingan ini terinspirasi oleh postingannya Kak Hafidz 😀

Coba deh kita berpikir dulu sekarang, apa hakikatnya mencontek, korupsi, menipu orang lain? Tentu saja curang dan perbuatan keji, kan? Tapi, mengapa banyak orang lain yang masih saja melakukannya? Misalnya saja mencontek. Itu kan sama saja dengan menipu. Tapi kenapa kita masih melakukannya? Terus korupsi. Kalau kita mah insya Allah bersih lah ya dari yang namanya korupsi. Tapi, bagi pejabat-pejabat yang lingkungannya adalah lingkungan korupsi, perbuatan itu ya hanya dianggap remeh saja sama seperti kita menganggap begitu remehnya persoalan mencontek. Lalu,

Apa landasan kebenaran itu?

Oke, pertanyaan bagus. Tentu saja landasan dari kebenaran itu adalah ilmu. Itu yang penting. Banyak atau sedikitnya orang yang melakukan itu bukanlah patokan. Nah, di sinilah kelemahan besar sistem Demokrasi–oke, kita nggak bahas itu sekarang–. Nah, ketika kamu tau yang mana yang benar dan yang mana yang salah, peganglah kebenaran walaupun kamu akan dimusuhi banyak orang.

Lalu, ketika segala sesuatunya dilandasi oleh ilmu, bukankah ketika sesuatu itu nggak ada ilmunya atau bertentangan dengan ilmu itu, adalah suatu kesalahan? Yap, itu betul. Terutama dalam masalah ilmu agama. Biasanya kan orang-orang ngatain gini,

Ah, itu ngapain sih orang bidah-bidahin terus?

Eits, coba deh kita renungkan kepada diri kita sendiri, “Jangan-jangan yang orang lain katakan kalau kita ini bidah, bener lagi. Amit-amit lah…”

Aku pernah denger tu hadits yang kurang lebih isinya kayak gini,

Nanti di akhirat, umatnya Rasulullah akan mendatangi Rasulullah di telaga Al Kautsar. Lalu, ada beberapa orang yang dihalau oleh malaikat dan tidak bisa mencapai telaga Al Kautsar. Terus, Rasulullah berkata, “Umatku. Umatku.” Kemudian malaikat berkata, “Ya, dia adalah umatmu tapi mereka tu senang melakukan suatu amal yang engkau tidak mencontohkannya (bidah).”

Kalau ada yang ketemu haditsnya, kasih tau ya…

Nah, terus kalau kebenaran dalam bidang kesehatan itu adalah kalau ada makanan atau minuman yang nggak bagus buat kesehatan, sebaiknya kita kurangin. Tapi, minimalnya sih kita harus akui kebenaran itu. Jangan karena kita sudah terbiasa memakannya sehingga kita menolak kebenaran itu. Oh ya, kalian tau nggak yang namanya sombong itu apa? Suatu kaidah yang sangat terkenal,

الكبر بطر الحق وغمض الناس

Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia

Nah, kalau kita menolak kebenaran, berarti kan kita orang yang sombong. Iya nggak?

Amit-amit dah…

Sorry kalau tulisannya agak ambur adul, @mzaini30 😛

Iklan

4 thoughts on “Kebenaran Tetaplah Kebenaran

  1. Wih ada tautan inspirasi tulisan, dan itu menunjuk pada blogku. Makasih 🙂
    Bener banget tuh menyontek mirip sama korupsi. Dasar memeranginya harus pakai ilmu. Menimba ilmu itu pahit, tapi Imam Syafi’i pernah bilang dalam syairnya ”Barang siapa tidak pernah merasakan pahitnya belajar meski sekejap, dia akan menelan hinanya kebodohan sepanjang hayatnya”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s