Benarkah Membaca Sholawat Nariyah Malah Membuat Kita Menjadi Dosa?


Pernah ada yang bilang kalau Sholawat Nariyah itu adalah bentuk pengkultusan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Dulu, pas aku dengar itu mah nggak ngerespon. Lagian, kultus ki opo to? Aku yo ra ngerti? Terus tadi aku mencoba membuka lagi buku haulnya Almarhum Pak Bambang. Nah, kan di situ ada tuh lafaznya Sholawat Nariyah. Tak ketik di sini ya, biar ngerti Sholawat Nariyah tu yang mana.

اَللَّهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَسَلِّم سَلاَمًا تَامًا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِي تُنحَلُ بِهِ العُقَدُ وَتَنفَرِجُ بِهِ الكُرَبُ وَتُقضَى بِهِ الحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسنُ الخَوَاتِم وَيُستَسقَى الغَمَامُ بِوَجهِهِ الكَرِيمِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحبِهِ فِي كُلِّ لَحمَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعلُومٍ لَك

Artinya yang di buku itu :

Ya Allah curahkanlah (rahmat) kesejahteraan dan keselamatan yang sempurna kepada junjungan kita, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sebab dengan rahmat itulah menjadikan terlepasnya keruwetan, hilangnya kesusahan (duka cita), terpenuhinya segala kebutuhan, tercapainya semua yang disukai, menjadikan husnul khotimah, turunnya hujan dari awan. Semua itu berkat keagungan-Mu yang Maha Mulia yang Engkau berikan kepada keluarga, sahabat, dan pada tiap-tiap yang berpandangan (mempunyai mata), serta tiap-tiap jiwa yang bernafas dengan jumlah yang Engkau ketahui.

Nah, pas tak baca artinya mah kayaknya biasa aja, nggak ada tuh yang namanya pengkultusan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Kalau yang kutangkap dari terjemahnya nih ya, dengan adanya rahmat, akhirnya,

  1. Terlepasnya keruwetan
  2. Hilangnya kesusahan
  3. Terpenuhinya segala kebutuhan
  4. Tercapainya semua yang disukai
  5. Menjadikan husnul khotimah
  6. Turunnya hujan dari awan

Bukannya semua itu bisa terjadi karena adanya rahmat. Berarti kan rahmat itu yang menyebabkan keenam hal tadi.

Terus, akhirnya aku tinggal dah tu bacaan shalawat. Soalnya harus melayani pembeli dulu 😀

Nah, terus tak buka lagi Sholawat Nariyahnya terus tak baca lagi sambil menelaah isinya. Terus, aku ngerasa kayaknya ada yang ganjel gitu. Kan kalau rahmat itu kan bentuknya muannats, berarti kan seharusnya yang ditulis di doanya itu biha bukan bihi. Nah, di sini aku mulai merasa ada yang aneh. Apakah yang nerjemahkannya ini asal-asalan atau yang buat sholawatnya ini orang yang nggak tau bahasa Arab? Entahlah. Itu biar sejarah saja yang berbicara. Sekarang aku jadi merasa terpanggil kembali untuk bermain-main kembali dengan Nahwu–grammmar bahasa Arab–. Soalnya, Nahwu tu kan kayak Proggramming. Makanya seru.

Oke, sekarang coba kita telaah lagi. Kalau penyebab dari keenam hal itu adalah rahmat, berarti kan seharusnya biha bukan bihi. Pertanyaannya adalah, siapa yang dimaksud dengan bihi di sini? Berarti kan tinggal dua saja yang punya kemungkinan. Kalau nggak Allah subhanahu wa taala, ya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Kalau yang dimaksud itu adalah Allah subhanahu wa taala, itu tepat sekali karena Allah subhanahu wa taala lah yang telah melepas keruwetan, menjadikan husnul khotimah, menurunkan hujan dari awan, dan lain-lain.

Oh iya, selain kejanggalan yang menggunakan bihi untuk memanggil (callback) rahmat, kejanggalan berikutnya adalah ternyata di teks arabnya saja, kata rahmat nggak disebut. Terus, dari manakah katarahmat yang muncul di terjemahan itu?

Lanjut.

Tadi kan kita sudah menentukan ada dua kemungkinan yang menjadi penyebab (subjek) di sini. Yaitu Allah subhanahu wa taala atau Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam karena di antara dua itu, tepat sekali untuk dipanggil dengan bihi yaitu sama-sama muzakkar. Lalu, dari mana kita bisa menentukannya? Untungnya, di teks Arabnya itu, ada kata allazi yang bertugas sebagai penghubung. Kalau bahasa Indonesianya itu “yang”.

Nah, dari sini kita sudah dapat menyimpulkan bahwa yang dimaksud adalah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

  1. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melepaskan keruwetan
  2. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menghilangkan kesusahan
  3. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memenuhi segala kebutuhan
  4. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membuat tercapainya segala yang disukai
  5. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjadikan husnul khotimah
  6. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjadikan turunnya hujan dari awan

Bukannya keenam hal itu adalah hanya kekuasaan Tuhan saja?

Lalu, siapakah sebenarnya Tuhan dalam shalawat ini?

@mzaini30

PS : Artikel ini tidak berniat memojokkan sebuah kelompok tapi murni sebagai bentuk penelitian dan analisa.

Iklan

8 thoughts on “Benarkah Membaca Sholawat Nariyah Malah Membuat Kita Menjadi Dosa?

  1. Waktu kecil saya sering ikut bapak ke surau untuk sholat subuh berjamaah. Sholat nariyah ini selalu dibaca sebelum doa. Saya gak tau ini salah apa gak, biarlah yang berohak memutuskannya. Tapi menurut saya selagi ini niatnya baik kenapa tidak?

  2. Di blok ini kurang lebihnya berisi opini dari sebuah sumber. Yg namanya memberi opini wajib diteliti dulu benar tidaknya sumber tsb. Bisa jadi sumbernya salah atau pun sebaliknya. Karna bila kurang terpercaya sumbernya kemudian memberi paparan pada publik bisa jadi hal tersebut justru akan menjadi membingungkan umat dan memecahbelahkannya. Apalagi ini menyangkut sholawat. Bisa jadi menimbulkan keraguan di hati pembaca untuk bersholawat. Dan jelas itu perkara tdk baik

  3. Ana juga sependapat dng penulis. Jika menganalusa lafal shalawat nariyah, kesimpulan maknanya seperti yg penulis ungkapkan. Maka mengandung pengkultusan yg berlebih, maka ini tentu tdk pantas dilakukan pada baginda Nabi SAW.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s