Menoreh Tinta dalam Samudra Sejarah


Ketika seorang bijak bertanya kepadamu, “Untuk apa kau menandai waktu?” apa yang akan kamu jawab?

In my opinion, waktu bukanlah hal yang sepele. Waktu, bagiku adalah suatu elemen yang akan menentukan seberapa berhargakah kehidupan kita di dunia ini. Ketika waktu tak memberikan harga, terus, apa bedanya seorang yang luntang-lantung tak ada kerjaan dengan seorang visioner yang disiplin dan penuh keyakinan?

Yah, semua itu karena waktu dan jiwa yang memberikan corak harga.

Mari kita berkeliling dulu dalam lautan sejarah sejak awal manusia mengenal tulisan hingga kita saat ini, di mana buku semakin terasing…

Sejak zaman dahulu kala, ketika manusia mengenal tulisan, beragam kebudayaan yang lahir dari pemikiran para tetua adat tertuang semua dalam tulisan-tulisan purba yang tercetak di atas kepingan-kepingan artefak. Semua pengetahuan diabadikan oleh para tetua dan para ilmuan purba, baik itu bersifat fakta maupun mitos. Begitulah orang-orang yang mengerti akan pentingnya menandai waktu, menandai sejarah,marking history and knowledge, menghargai waktu.

Sekarang, bagaimana dengan kita, yang kehidupan sehari-harinya dipuaskan dengan berbagai hiburan yang melalaikan kita akan kehidupan haqiqi dan melemparkan kepingan-kepingan sejarah ini dengan hina? Ya, setiap tulisan adalah sejarah. Begitulah para pendahulu kita memahami waktu, menghargainya, dan menandainya. Bagaimana dengan kita? Apakah kita akan turut menghargainya dan menandainya? Atau, kita hanya akan terus mengikuti–terseret–arus dan tidak berbuat apa-apa? Yang sejatinya malah menyeret kita kepada kehancuran?

Mulai sekarang, mari kita menerjunkan diri kita ke dalam luasnya samudra sejarah. Kita cicipi setiap pahit-getirnya kehidupan lalu memaknainya dengan penuh penghayatan. Mari kita torehkan tinta pertama kita lalu yakinkan jiwa, “Buatlah torehan pertamaku ini sebagai pendobrak kebobrokan generasi ini, wahai Allah.” Iringi perjuangan kita dalam menandai sejarah ini dengan doa yang tulus, ikhlas, dan tanpa diiringi niat yang buruk. Semoga dengan perjuangan kita mendidik generasi bangsa ini lewat tulisan, semakin berkualitas lah bangsa kita dan mampu bersahabat dengan negara lain. Kalau tidak mulai sekarang, kapan lagi?

@mzaini30 😎

PS : Terima kasih banyak buat Kak Gara yang sudah menyelenggarakan Giveaway ini 😉

Iklan

18 thoughts on “Menoreh Tinta dalam Samudra Sejarah

    • Sebenarnya hidup itu adalah pilihan. Kita mau hidup kita akan menjadi apa. Bukan pilihan dari orang lain. Kalau orang lain menghendaki kita supaya menjadi yang tidak kita inginkan, bagusnya menolak. Karena kita sendirilah yang memberi warna dan makna pada hidup kita. (Sorry kepanjangan :mrgreen: )

      Makasih doanya ya kang 🐱

  1. Kepala saya jadi besar kalau dibilang orang bijak :haha.
    Terima kasih sudah turut berpartisipasi, ya. Pengumumannya mungkin dalam beberapa hari, maksimal akhir pekan (yang punya hajat masih sibuk bebersih) :hehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s