At Takatsur yang Menggetarkan


Kawan, pernah nggak kamu memperhatikan makna dari setiap ayat yang kamu baca? Pernah nggak kamu memperhatikan bahwa dari sekian surat pendek di Al Quran, maknanya itu begitu dalam, begitu luar biasa. Salah satunya surat At Takatsur.

Jadi kan ceritanya gini nih, suatu hari pas aku shalat Maghrib, aku nyoba dah untuk mengartikan setiap bacaan shalat yang kuucapkan dan yang diucapkan imam, termasuk bacaan Fatihah ma bacaan surat-surat pendeknya.

Waktu itu imam membaca surat At Takatsur. Aku pun menyimaknya dengan khidmat sambil berusaha mengartikan maknanya walaupun agak terbata-bata.

أَلهَاكُمُ التَّكَاثُر

Di ayat yang pertama ini yang kutangkap adalah keunikan dari segi Nahwu (grammar bahasa Arab) yaitu, kenapa kok padahal di awalnya itu alif lam tapi dikasih hamzah? Padahal kan kalau yang namanya alif lam itu nggak ada hamzahnya. Berarti aku berkesimpulan kalau alhakum di sini bukan termasuk kata benda tapi kata kerja dan otomatis yang menjadi subjeknya itu at takatsur yang berarti bermegah-megahan. Maka, artinya menjadi,

Bermegah-megahan melalaikan kalian (Al Quran surat At Takatsur ayat 1)

Di sini aku termenung bahwa selama ini tanpa sadar sikap bermegah-megahan kita, mengumpulkan harta yang banyak, kehidupan hedonis, konsumtif, permisif terhadap segala hal yang sebenarnya hanya sekedar keinginan, semuanya itu melalaikan kita! Alangkah baiknya Allah subhanahu wa taala yang telah mengingatkan sesuatu yang sangat urgen dalam kehidupan kita ini di dalam ayat-ayatnya di surat-surat pendek yang selalu dibaca oleh imam.

Tapi, sampai kapankah semua kehidupan hedonis ini melalaikan kita?

حَتَى زُرتُمُ المَقَابِر

Sampai kalian mengunjungi kuburan-kuburan kalian (Al Quran surat At Takatsur ayat 2)

Ternyata semua kehidupan dunia ini, kehidupan yang penuh gemerlap ini, melalaikan kita sampai kita mengunjungi kuburan-kuburan kita. Di ayat kedua ini Allah mengingatkan dengan tegas kepada kita bahwa kita akan mati. Ya, kita pasti bakalan mati. Semua dari kita pastilah tau hal itu. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah, “Apakah kita siap dengan kehidupan kita nanti setelah mati?” Ada apa setelah mati? Apakah semua kehidupan kita di dunia ini akan bermanfaat untuk kehidupan kita setelah kita mati nanti?

Kadang aku berpikir, “Mati itu rasanya kayak gimana ya?” Di malam yang sunyi itu aku berpikir. Di dalam kamar. Sendirian. Orang serumah sudah tidur. Dalam kamar yang gelap tanpa lampu. Aku merenungkan akan seperti apa kematianku nanti.

Amat perih…

Mengerikan…

Aku tak sanggup membayangkannya…

Apakah kematian dengan tembakan senjata yang akan menimpa kita? Seperti apa rasanya? Sedangkan tangan mau disuntik aja sakitnya minta ampun. Tangan kestaples aja sudah begitu sakitnya. Bagaimana rasanya ketika peluru itu menembus badan kita? Atau, nggak usah peluru deh. Coba kita bayangkan bagaimana perihnya ketika kita mencoba mengiris tangan kita dengan pisau?

Apakah kematian kita nanti dengan cara tenggelam? Bagaimana rasanya? Sedangkan kelelep di kolam renang aja rasanya udah mengerikan sekali. Aku jadi keinget sama adek kelasku di Isy Karima yang sudah meninggal ketika kita bermain di pantai. Misuari namanya. Aku benar-benar nggak bisa ngebayangin gimana rasanya si Misuari itu ketika kelelep di hamparan ombak yang bergulung-gulung dan dia berusaha mati-matian buat nyelamatin nyawanya. Bener-bener nggak kebayang…

كَلاَّ سَوفَ تَعلَمُون

Sekali-kali Tidak! Kalian akan mengetahuinya!

ثُمَّ كَلاَّ سَوفَ تَعلَمُون

Kemudian, Sekali-kali Tidak! Kalian akan mengetahuinya!

(Al Quran surat At Takatsur ayat 3 dan 4)

Kalau dalam bahasa Arab, ada orang yang mengatakan kalla yang artinya “Sekali-kali Tidak!” ini berarti bukan main-main. Ini adalah sesuatu yang benar-benar serius. Apalagi yang mengatakan di sini adalah Allah subhanahu wa taala. Coba kita bayangin sudah, kalau Allah saja mengatakan kalla, berarti, sudah separah apa kita melupakan kehidupan abadi kita di akhirat kelak? Sudah separah apa kita terlena kehidupan dunia ini sehingga menabrak aturan-aturan Allah supaya kita selamat di akhirat nanti? Kita seakan-akan sudah lupa kalau kita bakalan mati. Seberapa panjang sih umur kita itu? 60 tahun? 100 tahun? 1.000 tahun? Mau sepanjang apapun umur kita, kita pasti bakalan mati. Terus, ketika kita mati, bekal apa yang kita bawa? Apakah bekal menuju surga atau bekal menuju neraka?

Zaman sekarang ini memang bener dah kalau orang bilang zaman edan. Orang-orang sudah sedikit demi sedikit lalai dengan kehidupan akhiratnya. Beberapa orang lebih mendahulukan egonya daripada perintah Allah. Lebih mendahulukan gengsi jamaahnya daripada perintah Allah. Mungkin kita salah satu dari mereka. Mungkin kita sudah melupakan Allah. Terus, ketika kita mati nanti, apa yang bakal kita banggakan? Semuanya sirna. Musnah. Hanya tinggal amalan-amalan kita yang akan menyelamatkan. Orang-orang nggak bakal bisa menyelamatkan kita. Mau Kiyai kah, Habib kah, Ustadz kah, nggak ada yang bisa menyelamatkan kita. Kecuali amalan baik, syafaat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, sama keridhaan Allah subhanahu wa taala. Cuma itu.

كَلاَّ لَو تَعلَمُونَ عِلمَ اليَقِين

Sekali-kali Tidak! Seandainya kalian mengetahuinya dengan sebenar-benarnya yakin (dengan mata kepala sendiri kalau istilah kita)

لَتَرَوُنَّ الجَحِيم

Kalian benar-benar melihat neraka Jahim

ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَينَ اليَقِين

Kemudian, kalian benar-benar melihatnya (neraka Jahim) dengan mata sehingga yakin

ثُمَّ لَتُسئَلُنَّ يَومَئِذٍ عَنِ النَّعِيم

Kemudian, kalian benar-benar ditanya pada hari itu tentang segala kenikmatan (semasa di dunia)

Surat At Takatsur ini benar-benar membutuhkan perenungan mendalam akan eksistensi segala kekayaan yang kita punya ini. Apakah semakin mendekatkan diri kita kepada Allah atau malah membuat kita terlena dan melupakan Allah…

@mzaini30 😉

Iklan

4 thoughts on “At Takatsur yang Menggetarkan

    • Yah, begitulah kak. Kadang terbayang bagaimana kematian orang-orang terdekat. Kadang dapat firasat kayak Final Destination gitu (nggak jadi jalan jadinya). Kadang sedih juga terbayang masa lalu. Jadi melamun.

      Bisa tuh dicoba 😀

  1. baca ini sambil instropeksi diri. Ternyata selama ini manusia itu selalu merasa diburu-buru oleh hal-hal yang bersifat duniawi. Padahal hakikatnya kita sedang diburu-buru oleh kematian. Hal ini yang sering manusia (termasuk saya) lupakan. Kematian bisa datang kapan saja…
    nice post! terimakasih karena sudah mengingatkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s