Hidup dan Berpikir Sederhana: Secara Konsep Terlihat Mudah


image

Ketika kita sedang di atas, kita kerap kali lupa dengan yang di bawah. Ketika kita sedang hidup enak, kita menjadi lupa seperti apa rasanya “kerja keras”. Di saat kita hidup dalam kenyamanan, kita lupa bagaimana rasanya terjerembab dalam keterpurukan.

Mari kita coba apakah kita masih bisa berpikir secara sederhana dan bertindak secara sederhana. Ketika lapar, kita makan di rumah. Ketika sepi, kita bermain bersama. Ketika nganggur, kita lakukan kegiatan apapun yang produktif. Entah. Apakah aku hanya mendapatkan gambaran-gambaran tersebut di desa aja, atau di kota juga? Bukankah kita, orang kota, lebih suka dengan yang namanya artificial? Segala hal yang menipu kita! Kita lebih suka bermain di layar hape dibanding bersama teman. Kita lebih suka mengetik dibanding menulis dengan berbagai gaya handwriting. Kita lebih suka melihat hanya dari tipi dibanding terjun langsung. Ujung dari semua itu adalah: tak perlu kerja keras kalau kita sudah mendapatkan semua (kepalsuan ini)

Kamu. Kalau terdampar di desa, mungkin seorang Mbah berkata, “Kami cukup saja hidup tanpa listrik, karena ini membuat kita lebih peduli”

Nyesek

Bagaimana caranya supaya kita senantiasa berpikir sederhana dan bertindak sederhana?

Tentunya semua berawal dari komitmen teguh, niat yang kuat, strict kepada diri sendiri, no excuse, no malas. “Allahumma paksaken,” kalau kata Ustadz Syihab.

Apapun situasi yang kita hadapi, lalui dengan tenang dan teruslah berpikir. Jangan lewatkan sedetik saja tanpa berpikir. Selalu waspada. Andai saja kita ninja, tentu kita akan sudah memahami betul urgensi sikap wasapada dan juga kesederhanaan. Dunia paling hanya berapa tahun saja, tapi kehidupan setelahnya yang bikit gigit jari walaupun tak sanggup.

Iklan

33 thoughts on “Hidup dan Berpikir Sederhana: Secara Konsep Terlihat Mudah

  1. Aku selalu berfikiran kalo di saat aku memaksa diri, disitulah muncul kekuatan dan kenyamanan yang sesungguhnya. Kalo aku baca ulang dan ambil hikmah dari tulisan ini adl ‘penerimaan’ dan ‘keikhlasan’. Kalo hal itu ga ada, kita ga akan mampu untuk berfikir dan bertindak secara sederhana.

  2. Di desa pun sekarang mulai hilang kebiasaan2 bermain bersama. Kalaupun bersama mereka lebih sibuk mrlihat HP masing2 daripada ngobrol

    Merasa tersindir dengan kata ustadnya “Allahumma paksaken” πŸ™‚

  3. Nah, itu dia, Mas.. Saya seringkali lebih suka yg ndeso atau jadul tuh ya karena itu. Hidup dengan menghidupi hidup sendiri. Siang ngga ada siaran tv, jd kerjanya ya kerja. Bukan nonton sampai hapal. Bukan kepoin fb temen yg narsis pdhal mesti puter otak buat dapet duit. Nice sharing, Mas. TFS!

  4. No excuses, No malas. Oke. Noted. Kaya simple tapi sebenarnya berat.
    Harus dipaksakan ya? Baiklah. Mari mencoba berusaha lebih baik lagi.
    Makasih udah diingetin Zaini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s