Show Don’t Tell


Sekarang itu zamannya pencitraan. Apa aja bisa jadi bahan pencitraan. Buruk? Nggak. Selama itu hanya menjadi bahan seru-seruan aja.

Tapi, kalau pencitraan itu sudah berbentuk seperti harapan maupun janji, di situlah akan timbul masalah.

Contohnya adalah seseorang yang tiap hari dia pencitraan sebagai desainer. Dia munculkan quote-quote tentang keindahan seni, selalu mendukung aplikasi-aplikasi desain, selalu update berita terbaru tentang desain dari seluruh dunia. Selalu turun dalam perdebatan antar aliran desain. Namun, ketika dia diminta menunjukkan hasil karyanya… apakah dia memilikinya?

Ingat, show don’t tell.

Lalu, bagaimana kita bisa tau apa aja sih yang harus dishowkan dari apa yang kita lakukan saat ini?

Jadi kan segala hal di dunia ini memiliki buah. Misalnya saja, buah dari ilmu adalah amal dan akhlak. Maka, buah itulah yang harus kita showkan, bukan sekadar kita mendapatkan ilmu lalu berdebat di sana-sini atau kita memamerkan buku-buku tebal yang kita baca. Bukan itu ya. Itu semua baru tell, belum show. Ketika kita dapat menunjukkan perubahan kita falam perbuatan dan akhlak, maka di situlah kita sudah bisa menshowkan ilmu kita. Istilahnya, ilmu itu sudah memberikan efek pada diri kita, sudah kita dapatkan buahnya.

Kalau bingung dengan istilah buah, bisa juga kita ganti dengan istilah tujuan. Nah, tujuan sebenarnya kita melakukan hal ini tuh apa sih? Itu yang harus kita pikirkan dan kita gapai tujuan tersebut.

Iklan

2 tanggapan untuk “Show Don’t Tell

  1. Terima kasih! Ini juga jadi suatu peringatan buat saya. Mudah-mudahan kita jauh dari tindakan seperti itu dan bisa jadi lebih bijaksana dengan ilmu yang kita miliki. Ketimbang tergoda dengan sesuatu yang baru (dan yang mungkin tidak ada orang yang tahu), lalu mengumbarnya di mana-mana dalam bentuk mentahan, menurut saya lebih baik ilmunya disimpan, untuk mengubah perilaku, atau untuk dituliskan dan menjadi ilmu baru bagi orang banyak. Hehehe…

    1. Iya Kak. Menurut saya juga mending sesuatu itu kita matangkan dulu baru kita tunjukkan pada dunia. Kan sesuatu yang sudah jadi itu memberikan nilai. Misalnya aja nasi goreng yang sudah matang. Lebih berharga kan daripada nasi digoreng, belum jadi, sudah dipamerkan aja ke orang lain.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s