Tugas Itu…. Utang


Kenapa ya kita sering bermalas-malasan ketika tugas datang? Coba deh bayangkan tugas itu sebagai utang yang harus dilunasi. Pasti nggak mau nunda-nunda tuh.

Ini soal responsibilitas sih. Soal seberapa besar kepekaan kita terhadap berbagai tugas yang kkta terima.

Mengabaikan tugas? Aneh ah. Nggak pantas jadi hacker. Nggak pantas jadi orang keren.

Ada tugas, 5 menit selesaikan. Kalau bisa sih. Nggak usah nunda-nunda deh. Tugas itu macam utang. Harus cepat dilunasi.

Iklan

Suatu Perjuangan


Sunyi. Hening. Teduh.

Kami bersepakat pada satu perjuangan.

Itu.

Walau pedih. Walau menyiksa.

Kami sudah berkomitmen.

Allah, bantulah kami.

Buat Kamu yang Selalu Berjuang Menggapai Idealitas


Pasti susah ya? Berat ya? Ketika kamu harus bersusah payah, mengorbankan berbagai emosi, berbagai perasaan yang bercampur aduk, mendidih dalam gejolak arketipe-arketipe alam bawah sadar… Alam bawah sadar yang senantiasa menginginkan rasa nyaman, rasa aman, terpuasnya segala kebutuhan…

Pasti berat ya?

Pasti berat kan menggapai idealitas yang ingin kamu wujudkan? Pasti berat kan menjadi manusia yang senantiasa sempurna? Pasti berat kan jadi orang yang senantiasa membuat orang lain bahagia? Membuat kehadiranmu selalu dinantikan?

Aku tau kok itu semua berat.

Aku tau kok kalau kamu selalu mampu menangani semua hambatan.

Aku tau kok kalau kamu selalu meneriakkan kata “bisa” di dalam hatimu.

Aku tau kok kamu senantiasa menangis dalam sepi di saat melihat semuanya bergembira dalam ketidaksempurnaan mereka sedangkan dirimu senantiasa berjuang menuju kesempurnaan.

Aku tau kamu kuat.

Aku tau kalau terkadang kamu butuh dikuatkan.

Itulah saat ini.

Saat kau menangis dalam sepi, tak seorangpun mengetahui. Kamu menjerit. Kamu berteriak. Kamu mengharap keajaiban. Kamu mengharapkan segalanya. Kamu butuh dikuatkan.

Kamu butuh dikuatkan.

Jangan lupakan kehadiranku ya…

Aku bukan patung.

Aku bukan batu.

Aku tidak sempurna.

Tapi aku senantiasa berjuang untuk menyempurnakanmu.

Kuat ya…

Mari Kita Pikir tentang Apa yang Sebaiknya Kita Pikirkan


Manusia itu kompleks. Aneh. Weird. Geek. Manusia itu membingungkan. Apakah manusia itu hidup untuk hari ini, hari esok, atau masa lalu? Aliran gestalt senantiasa menekankan bahwa manusia hidup untuk saat ini di tempat ini. Psikoanalisa senantiasa menggali kenangan-kenangan masa lalu. Eksistensial humanistik senantiasa berbicara tentang konsep-konsep masa depan. Hingga aliran postmodernisme yang senantiasa menekankan pada kehidupan setelah “hari ini”. 

Kapankah sebenarnya manusia itu hidup? Apakah hari ini, hari esok, atau kemarin?

Manusia juga senantiasa dihinggapi keraguan-keraguan padahal mereka memiliki akal. Untuk apakah akal itu sebenarnya? Untuk yakin atau ragu? Buah dari ilmu adalah yakin, yang kemudian akan diimplementasikan dalam bentuk amal dan akhlak.

Mengapa manusia tidak berpikir?

Mengapa manusia gagal? Mengapa manusia menyerah? Mengapa manusia gampang emosi? Mengapa manusia gampang terbawa suasana?

Di manakah akal mereka?

Akal adalah rumah dari yakin. Mengapa kita melakukan sesuatu yang tidak kita yakini? Mengapa kita melakukan sesuatu yang tidak kita pikirkan? Untuk apa akal selama ini?

Manusia adalah gerombolan semut.

Rasional akal atau irasional perasaan? Tak ada yang salah. Manusia harus rasional juga harus irasional. Manusia harus berpikir juga harus berperasaan.

Apakah kita memilih apakah harus menjadi manusia yang berperasaan atau berlogika?

Ya. Tapi pilihlah keduanya.

Manusia terkadang dominan di perasaan, terkadang dominan di akal. Namun, manusia memiliki akal untuk menentukan akal atau perasaan di situasi tertentu. Kita bisa memilih. Kita memiliki kekuatan yang tidak dimiliki makhluk lain. Manusia bisa lebih baik daripada malaikat atau lebih buruk dari setan. Manusia bisa memilih akan melakukan amalan penduduk surga atau penduduk neraka. Manusia bisa memilih agama apa yang ingin dianutnya. Manusia bisa memilih. Bisa memilih apapun.

Manusia bisa memilih hidup untuk hari ini atau masa lalu.

Aku adalah Mereka?


Mereka seakan tertawa, walau aslinya tidak.

Aku dan mereka. Sulit mengungkap kata-kata apa yang tepat mengutarakan segala sesuatunya tentang aku dan mereka. Aku yang kecil apa mereka yang besar? Namun satu yang pasti:

Aku ceroboh.

Mereka selalu memberi beban, beban, dan beban, begitu seterusnya bertumpuk-tumpuk. Ujar mereka, “Ini membuatmu bangkit Nak.” Oke, aku terima. Aku terima segala kata-kata manis kalian. Aku terima segala harapan hampa dari kalian.

Namun…

Di dasar tubuh ini…

Sesosok anak kecil meringkuh menjerit-jerit, teriak, kesakitan, menggenggam kepalanya dengan keras. “Aku menderitaaaa….”

Self.

Inilah self.

Inilah diri.

Inilah aku.

Siapakah aku? Aku yang ini apa aku yang itu?

Aku menurut mereka atau aku menurut aku?

Mengapa manusia senantiasa menuruti kehendak manusia lain?

Mengapa manusia lemah ini senantiasa teledor, ceroboh, cuek, apatis. Masih layakkah manusia lemah ini hidup?

Masih adakah waktu untuk mengulang segalanya?

Masih adakah waktu untuk menghentikan kecerobohan ini?

Masih adakah waktu untuk segalanya?

Aku berjuang sendiri.

Hanya aku.

Tanpa mereka.

Show Don’t Tell


Sekarang itu zamannya pencitraan. Apa aja bisa jadi bahan pencitraan. Buruk? Nggak. Selama itu hanya menjadi bahan seru-seruan aja.

Tapi, kalau pencitraan itu sudah berbentuk seperti harapan maupun janji, di situlah akan timbul masalah.

Contohnya adalah seseorang yang tiap hari dia pencitraan sebagai desainer. Dia munculkan quote-quote tentang keindahan seni, selalu mendukung aplikasi-aplikasi desain, selalu update berita terbaru tentang desain dari seluruh dunia. Selalu turun dalam perdebatan antar aliran desain. Namun, ketika dia diminta menunjukkan hasil karyanya… apakah dia memilikinya?

Ingat, show don’t tell.

Lalu, bagaimana kita bisa tau apa aja sih yang harus dishowkan dari apa yang kita lakukan saat ini?

Jadi kan segala hal di dunia ini memiliki buah. Misalnya saja, buah dari ilmu adalah amal dan akhlak. Maka, buah itulah yang harus kita showkan, bukan sekadar kita mendapatkan ilmu lalu berdebat di sana-sini atau kita memamerkan buku-buku tebal yang kita baca. Bukan itu ya. Itu semua baru tell, belum show. Ketika kita dapat menunjukkan perubahan kita falam perbuatan dan akhlak, maka di situlah kita sudah bisa menshowkan ilmu kita. Istilahnya, ilmu itu sudah memberikan efek pada diri kita, sudah kita dapatkan buahnya.

Kalau bingung dengan istilah buah, bisa juga kita ganti dengan istilah tujuan. Nah, tujuan sebenarnya kita melakukan hal ini tuh apa sih? Itu yang harus kita pikirkan dan kita gapai tujuan tersebut.